Hari Sabtu. Sudah siang, sebentar lagi bel pulang berbunyi .Eri sudah gelisah di dalam kelas pada jam terakhir ini .Aku pun menyadari kalau Eri itu sedang gelisah . Teet...teet...!! Akhirnya bel pulang berbunyi . Aku pun cepat-cepat membereskan buku, lalu segera menuju ke meja Eri.
''Ri , kamu gak kenapa-kenapa? Dari jam terakhir tadi, kulihat kamu gelisah terus..." ujarku penasaran dan cemas.
"Ah, masa? er.. aku gak kenapa-kenapa kok." jawab Eri dengan ragu.
"Hm.. gitu ya? Kalau kamu butuh orang buat jadi tempat sampah, aku siap sedia lho!" bujukku.
"Hah? e..Enggak kok! yuk, ah Nes, pulang! mendung nih! "
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Lalu naik ke atap -atap adalah tempat sampahku. Di atap, aku berpikir, kenapa ya? ada apa sama Eri? Kok dia gak mau cerita? mm.. terus, udah seminggu ini dia aneh, kayak ada yang dia sembuny- " Nesy, Nesy ! Turun dulu! Kamu belum makan siang kan? ayo! " seru Bunda memotong kata-kata hatiku.
Aku pun turun dengan malas. Lalu makan, tiba-tiba ada ketukan pintu. Bundapun membukakan pintu, lalu memanggilku, katanya ada Eri ingin ketemu.
"Hei... ada apa, Ri? Tumben main ke rumahku, terus.. kok baw- ?" Eri memotong ucapanku.
"Nes, aku nginap di rumahmu ya? Aku bosen di rumah nih.. cuma sama Mbok aja di rumah. Boleh? "
Wah.. ada apa nih? Tumben, terus.. kayaknya dia mau nginep lama. Tapi, gak apa-apa sih. Toh, aku juga tidak punya teman di rumah ini, kakakku sedang sekolah di luar kota. " Boleh kok. Aku juga gak ada temen. Bunda.. boleh kan Eri nginep? ya ya..?" aku merengek pada Bunda.
"Boleh dong! Rumah ini kan jadi gak sepi! Yuk Eri ke kamarmu, hm... Eri kamu sekamar sama Nesy gak apa-apa?"
"Malah aku senang, Bunda -Eri juga memanggil bundaku dengan 'bunda', itu Bunda yang minta, katanya supaya lebih akrab- !"
"Yuk !"
Malam ini aku dan Eri menghabiskan waktu bersama. Untung besok libur, jadi hari ini kami bisa tidur larut. Sebelum tidur, kami naik ke atap. Di sana, aku melihat mata Eri yang menerawang.
Seminggu pun berlalu, hari ini, tiba-tiba saja aku berpikir lagi alasan Eri menginap, bahkan sudah seminggu bukannya keberatan, tapi apa orang tuanya gak nyariin? sampai-sampai, pak Mus -sopir Eri- pun bolak-balik mengantar pakaian.
Tiba di depan rumah, aku heran, kenapa ada mobil ibu Eri. Di sini, aku bisa mendengar suara Tante Riri -ibu Eri- sedang berusaha membujuk ERi untuk pulang. Hari ini, Eridan aku tidak pulang sama-sama karena aku ke kantor pos dulu.
Saat kakiku akan melangkah, tiba-tiba mobil Tante Riri bergerk, tapi.. Tanpa Eri. Aku berlari masuk ke rumah, ingin tahu apa yang terjadi. Bunda sedang menenangkan Eri, lalu.. Eri pun roboh. Pingsan. Kurasa, dia depresi...
Eri pun siuman.
Aku memberinya makan, lau dia memint kertas dan bolpoin.
"Nes, ntar baca ya! Bareng Bunda.." ujar Eri setelah selesai menulis, lalu ia pergi tidur.
"Nes, ntar baca ya! Bareng Bunda.." ujar Eri setelah selesai menulis, lalu ia pergi tidur.
Begini isi tulisan Eri,
Dear Nesy, sahabat paling baik yang aku temui...
Dear juga Bunda ...
Terima kasih sudah mau menampungku di sini. Mungkin salahku yang berpikiran pendek. Jujur.. aku kabur dari rumah. Karena.. aku gak tahan tinggal dengan orang tua yang kerjaannya ribut melulu. Ditambah lagi, Mama bilang kalau aku hanya anak angkat, dia mengatakannya seminggu yang lalu. Nesy, aku tahu, kamu pasti berpkir aku ini depresi dan semacamny, itu benar. hari Minggu yang lalu, waktu aku bilang mau ngambil Hp, sebenarnya tidak. aku pergi ke konseling, dari situ aku tahu bahwa aku terkena depresi ringan.
Bunda dan Nesy, aku minta maaf telah bohong. Tapi jujur.. aku parno waktu itu. .
Hm.. aku minta izin untuk tinggal di sini, sampai aku tahu tujuanku lagi..
Kumohon, kalian penolongku, pendampingku...
Kumohon, kalian penolongku, pendampingku...
Bunda dan aku berpikiran sama, Bunda pun menuliskan jawaban setuju di bawah tulisan Eri tersebut.
Sampai malam, kutunggui Eri -sahabatku, saudaraku-, sampai ia bangun.
Lalu, ia pun bangun, meliatku lalu kuberikan kertas tadi. Lalu ia membaca jawabanku dan Bunda.
Lalu, ia pun bangun, meliatku lalu kuberikan kertas tadi. Lalu ia membaca jawabanku dan Bunda.
Then.. she crying and laughing..
and so am I.
-terima kasih telah membaca-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar